Search Results

Mitos dan Pemahaman yang Salah tentang HIV dan AIDS

Komentar Dimatikan

Sering kita mendengar orang-orang di sekitar kita membicarakan isu-isu seputar HIV/AIDS. Tapi tahukah agan kalau ternyata ada kesalahpahaman yang terjadi di masyarakat awam (khususnya Indonesia) tentang HIV dan AIDS ini?

Dikutip dari WikipediaAcquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome(disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV adalah jenis virus yang dapat ditularkan melalui hubungan seks , sedangkan AIDS adalah tahap yang paling parah dari infeksi HIV. HIV memiliki obat namun para peneliti masih belum menemukan obat untuk AIDS. Seseorang dengan HIV dapat hidup bertahun-tahun jika infeksinya tidak berkembang menjadi AIDS.

Beberapa orang berpikir bahwa AIDS ditularkan melalui hubungan seks, tetapi sebenarnya, hanya orang yang memiliki HIV yang dapat mengembangkan AIDS. HIV dapat menyebar dengan cara yang berbeda, seperti melalui pertukaran cairan tubuh seperti air susu ibu, darah, pra – ejakulasi, sekresi vagina, dan air mani. Karena HIV adalah virus, maka tidak memiliki kemampuan untuk bereproduksi dengan sendirinya. Itulah sebabnya ketika memasuki tubuh, mereka menyerang sistem kekebalan tubuh dan kulit dengan melampirkan ke ke sel T. Virus tersebut akan menggunakan sel T untuk mereproduksi dan kemudian menghancurkannya setelah itu.

Sel T adalah jenis sel darah putih yang bekerja dalam memerangi infeksi. Ketika sel T menjadi dewasa, mereka mulai mengalir dalam darah dan menjaga tubuh dari infeksi yang mungkin masuk. Mereka sangat penting dalam sistem kekebalan tubuh karena mereka mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Sel T menginformasikan kepada sel B yang bersifat antibodi agar menghancurkan zat-zat asing.

Seorang individu mungkin tidak menyadari bahwa ia terinfeksi HIV selama bertahun-tahun. Jika jumlah sel T turun drastis, korban bisa saja terjangkit AIDS. “AIDS” pada dasarnya adalah istilah medis untuk penyakit yang berbeda dan gejala yang muncul karena efek dari HIV. Setelah orang tersebut terinfeksi HIV, virus terus menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga tidak akan mampu melawan infeksi lain yang masuk ke dalam tubuh (sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat dengan mudah menghancurkan mereka). Akibatnya, individu yang terinfeksi dapat dengan mudah terkena pilek dan penyakit lainnya.

Saat ini belum dikonfirmasi secara resmi obat untuk AIDS. Namun, orang yang terinfeksi HIV dapat memperlambat hilangnya sel T dari tubuh dengan menggunakan obat antiretroviral.

Mitos-Mitos Melegenda Seputar HIV dan AIDS

Sangat penting untuk mengetahui kebenaran dari mitos-mitos yang beredar seputar HIV AIDS. Percaya pada mitos yang beredar dapat menyebabkan ketakutan, penolakan bahkan membahayakan kesehatan Anda.

Berikut beberapa mitos seputar penyebab dan gejala HIV yang ditulis Dr Swapan Ghosh, MBBS dan American Board of seksologi (ABS) Certified Clinical Sexologist, seperti dilansir Lifemojo, Rabu (27/4/2011):

Mitos, HIV bisa menular dari kontak biasa
Ini merupakan mitos yang paling sering dipercaya orang sehingga menyebabkan banyak ODHA (orang dengan HIV/AIDS) ditolak dan dikucilkan. Yang perlu diketahui adalah HIV hanya dapat menyebar melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain (seperti sperma, cairan vagina dan air susu ibu) dan bukan dari kontak biasa (kontak kulit).

Memeluk, mencium dengan mulut tertutup, berbagi minuman, menggunakan peralatan olahraga, berbagi peralatan makan, menggunakan toilet yang sama atau ketika batuk dan bersin, keadaan tersebut tidak bisa menyebabkan penyebaran HIV.

Bahkan berciuman dengan mulut terbuka atau french kiss dianggap berisiko rendah karena air liur sebagai pembawa virus sering diabaikan. Namun yang menjadi kekhawatiran adalah ketika penderita HID AIDS mengalami luka di bagian mulut atau penyakit gusi yang nantinya bisa menyebarkan virus HIV.

Mitos, HIV adalah penyakit homoseksual
HIV adalah virus yang bisa menyerang siapa saja tanpa memandang orientasi seksual. HIV bisa diderita oleh orang yang baru lahir, lansia, wanita, remaja dan anak-anak dari setiap ras atau kebangsaan. Di seluruh dunia, HIV menyebar kebanyakan melalui kontak heteroseksual.

Mitos, nyamuk dapat menularkan HIV
Nyamuk tidak memasukkan darah orang lain ke dalam tubuh orang baru yang mereka gigit. Namun, nyamuk melakukan menyuntikkan air liur ke dalam korban-korbannya, yang mungkin membawa penyakit seperti malaria, demam berdarah, demam kuning dan lainnya. HIV tidak berkembang biak pada tubuh serangga, sehingga virus tidak bertahan cukup lama dalam tubuh nyamuk untuk ditransmisikan melalui air liur.

Mitos, seks oral tidak bisa menyebabkan HIV
Anda bisa mendapatkan HIV dengan melakukan oral seks dengan pria atau wanita, meskipun kemungkinan relatif lebih kecil dibandingkan tertular virus melalui hubungan seksual.

Air mani atau cairan vagina dapat membawa penyakit. Risiko meningkat ketika terdapat luka terbuka pada alat kelamin dan atau mulut, atau penyakit gusi signifikan atau perdarahan. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan penghalang lateks (kondom) selama seks oral, vagina ataupun dubur.

Mitos, orang yang positif terinfeksi HIV akan terlihat sakit
Orang dapat terinfeksi HIV selama lebih dari 10 tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda atau gejala. Selama bertahun-tahun orang merasa baik, mampu bekerja seperti sebelumnya dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Jadi bahkan jika pasangan tampak sehat, penting untuk mengetahui status HIV.

Mitos, ibu yang menderita HIV tidak bisa memiliki anak
Perempuan yang terinfeksi HIV masih bisa subur dan risiko menularkan HIV kepada anak yang belum lahir adalah antara 15 sampai 30 persen. Namun, dengan terapi antiretroviral yang sudah tersedia sekarang, tingkat penularan dari ibu ke anak telah turun menjadi sekitar 2-3 persen. Jadi ibu yang menderita HIV tetap punya kesempatan untuk memiliki anak.

Mitos, HIV adalah hukuman mati
Ini adalah mitos terbesar dari kesemuanya. Obat-obatan, program pengobatan dan pemahaman yang lebih baik tentang HIV dan AIDS memungkinkan orang yang terinfeksi untuk hidup normal, sehat dan hidup produktif.

 

Incoming search terms: