Operasi Obesitas Dapat Menyembuhkan Diabetes

Tindakan operasi obesitas atau kegemukan ternyata dapat membantu menyembuhkan diabetes lebih dari 50% pasien yang juga mengidap penyakit ini. Setelah menjalani operasi Roux-en-Y untuk membuang sebagian dari lambung, pasien hanya bisa memakan tiga sampai lima sendok makan setiap kali makan. Mereka tidak lagi merasa mudah lapar dan akan mengalami penurunan berat badan secara bertahap.

Operasi ini dilakukan pada penderita obesitas dan menderita penyakit lain seperti diabetes, dengan Indeks Massa Tubuh (BMI) minimal 32,5. Diantara pasien obesitas yang menderita diabetes, 70% diantaranya mengatakan bahwa diabetesnya mengalami perbaikan dalam waktu singkat, terlepas dari penurunan berat badan yang dicapai. Hanya dalam hitungan hari, kadar gula darah mereka mencapai tingkat normal, dan mereka tidak lagi tergantung pada obat-obatan diabetes. Para dokter belum bisa menjelaskan mekanisme ini. Namun perlu diingat, operasi obesitas ini mempunyai resiko; yang terburuk adalah kematian, dialami oleh 0,5 sampai 1 persen pasien setelah menjalani operasi obesitas. Pasien juga harus menjalani diet dengan mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar protein dan vitamin tinggi untuk mencegah malnutrisi.

Adanya bukti-bukti yang mendukung membuat Dr Asim Shabbir, seorang ahli bedah di Rumah Sakit Universitas Nasional atau National University Hospital (NUH), ingin memperluas indikasi operasi obesitas ini kepada penderita diabetes yang gemuk tapi tidak terlalu obesitas, dengan BMI paling rendah 25. Harus diingat bahwa perawatan ini hanya untuk pasien yang gagal mengontrol diabetesnya, meskipun telah menjalani berbagai macam terapi. Bagi orang-orang ini, terhindarnya mereka dari kegagalan organ, kebutaan, dan amputasi adalah sebanding dengan resiko operasi ini. Dengan mengontrol kadar gula darah dan berat badan mereka, mereka juga dapat mengurangi resiko serangan jantung dan strok.

Larangan Penjualan Rokok Untuk Remaja Di Singapura

Pusat Kanker Singapura (NCCS) telah mengajukan proposal untuk larangan penjualan rokok ke semua warga negara Singapura yang lahir pada dan pasca tahun 2000 karena rokok dapat merusak kesehatan. Larangan ini adalah salah satu solusi untuk menuntaskan masalah ketergantungan nikotin yang tersebar luas di kalangan remaja. Sebuah penelitian di tahun 2002 menunjukkan bahwa biaya sosial merokok di Singapura berkisar antara $674 juta dan $839 juta. Sedangkan secara internasional, persentase perokok meningkat dengan pesat terutama pada usia 12 sampai 18 tahun. Orang  yang mulai merokok sejak remaja juga cenderung menjadi perokok aktif dalam jangka panjang. 90 persen dari kasus kanker paru-paru disebabkan oleh merokok. Dan diantara 900 sampai 1000 orang di Singapura meninggal akibat terserang kanker paru-paru tiap tahunnya.

Penelitian oleh Universitas Harvard meneliti lebih dari 12.000 orang selama 3 dekade terakhir dan menemukan bahwa tendensi untuk merokok dapat menyebar melalui ikatan sosial baik dekat maupun jauh. Orang yang berhenti merokok biasanya berhasil melakukannya di dalam lingkaran orang-orang yang juga berhenti merokok. Efek ini menyebar dan menyebar, dan jumlahnya makin mengecil. Para peneliti juga menemukan bahwa perokok cenderung untuk melakukan migrasi ke tepi lingkaran sosial.

Konsultan senior dan kepala dari bedah onkologi NCCS, Asisten Profesor Koong Heng Nung, mengatakan bahwa proposal mereka adalah solusi yang simpel dan permanen, serta jauh lebih efektif dari hukum saat ini yang melarang penjualan rokok ke remaja yang berusia di bawah 18 tahun. Dia mempresentasikan proposal yang radikal ini ke para professional medis di acara SingHealth Duke-NUS Scientific Congress 2010 di Suntec City.

Makalah ini juga dipublikasikan di British Medical Journal bulan lalu. Profesor Koong mengerti bahwa proposal ini akan mengundang banyak kritik dan ancaman, terutama dari pabrik rokok. Dia menjawabnya dengan mudah: “Proposal kami tidak menghentikan para perokok saat ini dari kebiasaan merokok, dan selaras dengan apa yang pabrik rokok katakan: bahwa mereka tidak berniat mencari perokok baru, dan mereka juga ingin melindungi generasi muda.”

Penemuan Baru Untuk Mendeteksi Serangan Jantung Lebih Akurat

Kolaborasi antara peneliti di Singapore General Hospital (SGH) dan Nanyang Technological University (NTU) telah berhasil menciptakan alat detektor baru untuk menganalisa resiko serangan jantung dengan menggunakan variasi irama jantung. Alat ini 50% lebih akurat dibandingkan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital saja.

Penemuan Baru Untuk Mendeteksi Serangan Jantung Lebih Akurat

Para peneliti tersebut dapat memperkirakan resiko terjadinya serangan  jantung dalam waktu 72 jam dengan mengkombinasikan variasi irama jantung dengan usia dan tanda-tanda vital penderita. Sensitivitas dan spesifisitas alat ini masing-masing mencapai 66.7% dan 98.1%, lebih akurat dibandingkan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital saja yang mempunyai sensitivitas 41.7% dan spesifitas 99%.

Ini adalah yang pertama kalinya di dunia bahwa variasi irama jantung dapat dianalisa untuk memprediksikan serangan jantung. Hal ini akan sangat berguna di bagian unit gawat darurat dimana waktu sangatlah penting dalam menyelamatkan penderita. Perangkat lunak yang telah dibuat dapat digunakan untuk menganalisa variasi irama jantung secara real time untuk membantu membuat keputusan klinis di unit gawat darurat.